Dari Perut Bumi hingga Kebijakan Ekonomi: Peta Riset Para Ilmuwan Perempuan UPER dalam Mendukung Net Zero Emission 2060

Indonesia memiliki komitmen ambisius: mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Target ini menuntut transformasi menyeluruh—dari cara energi diproduksi, didistribusikan, dikonsumsi, hingga dikelola dampak lingkungannya. Tidak ada satu disiplin ilmu pun yang mampu menanggung beban transformasi sebesar ini sendirian. Dibutuhkan pendekatan lintas bidang yang terintegrasi, dan itulah persis yang sedang dilakukan oleh para peneliti perempuan Universitas Pertamina (UPER).

 

Keenam ilmuwan ini mengisi celah-celah kritis dalam ekosistem transisi energi nasional dengan keahlian yang saling melengkapi. Berikut adalah peta kontribusi riset mereka, yang bersama-sama membentuk cetak biru kemandirian energi bangsa.

 

Lapisan Bumi sebagai Fondasi Keamanan Energi

Sebelum teknologi penyimpanan karbon (CCS/CCUS) dapat dioperasikan secara aman, ada satu pertanyaan mendasar yang harus dijawab: apakah lapisan bumi di lokasi tersebut cukup stabil untuk menampung injeksi karbon dalam jangka panjang? Dr. Dumex Sutra Pasaribu, ahli geologi struktur dari Fakultas Teknologi Eksplorasi dan Produksi UPER, berfokus menjawab pertanyaan itulah.

 

Melalui teknik Analogue Sandbox Modelling (ASM)—simulasi fisik yang mereplikasi proses deformasi batuan dalam skala laboratorium—dan Palinspastic Restoration yang merekonstruksi posisi asli formasi geologi sebelum terdeformasi, Dr. Dumex mampu memodelkan mekanisme bawah permukaan dengan tingkat presisi tinggi. Riset ini memberikan peta integritas reservoir yang krusial, tidak hanya untuk keamanan CCS/CCUS, tetapi juga untuk pengembangan energi panas bumi (geothermal) yang menjadi salah satu andalan transisi energi Indonesia.

 

Revolusi Material di Skala Nano

Di ujung yang berlawanan dari rantai energi—di sektor hilir (downstream)—Dr. Nonni Soraya Sambudi bekerja di ranah yang tak kasat mata: skala nanometer. Diakui sebagai salah satu ilmuwan paling berpengaruh di dunia dalam daftar Top 2 Percent Scientists Worldwide 2025 versi Stanford University, Dr. Nonni mengembangkan nanomaterial dan teknologi fotokatalis.

 

Fotokatalis adalah material yang dapat mempercepat reaksi kimia menggunakan energi cahaya, termasuk sinar matahari. Dalam konteks transisi energi, teknologi ini memiliki dua potensi besar: pertama, mempercepat dekomposisi polutan dan emisi berbahaya; kedua, memungkinkan produksi energi bersih seperti hidrogen surya. Paradigma yang diusung Dr. Nonni—mengintegrasikan prinsip ekonomi sirkular dalam rekayasa kimia—menempatkan limbah industri bukan sebagai akhir rantai produksi, melainkan sebagai awal dari siklus baru.

 

Mengubah Baterai Bekas Menjadi Tambang Urban

Proyeksi pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia menghadirkan paradoks yang menarik: semakin banyak kendaraan listrik beroperasi, semakin besar pula tumpukan baterai lithium-ion yang akan habis masa pakainya dalam satu dekade ke depan. Dr. Nila T. Berghuis dari Fakultas Sains dan Ilmu Komputer UPER menjadikan paradoks ini sebagai objek risetnya.

 

Konsep yang dikembangkan Dr. Nila adalah urban mining—penambangan material berharga dari limbah teknologi perkotaan. Baterai Li-ion bekas mengandung lithium, kobalt, nikel, dan mangan yang nilainya sangat tinggi. Dengan teknologi regenerasi yang tepat, material-material ini dapat dipulihkan dan digunakan kembali sebagai bahan baku industri kendaraan listrik nasional. Selain bernilai ekonomi, pendekatan ini juga memotong ketergantungan Indonesia pada impor bahan baku baterai dari luar negeri.

 

Sampah sebagai Sumber Daya, Bukan Beban

Assoc. Prof. Dr. Mega Mutiara Sari membawa perspektif rekayasa lingkungan yang komprehensif. Risetnya pada teknologi Waste-to-Energy (WtE) mengeksplorasi bagaimana limbah padat—yang selama ini menjadi masalah kronis di kota-kota besar Indonesia—dapat dikonversi menjadi energi listrik atau panas yang berguna. Yang membedakan pendekatan Dr. Mega adalah penekanannya pada aspek keberlanjutan sosial: ia memastikan bahwa implementasi WtE tidak mengorbankan komunitas sekitar, melainkan justru memberdayakan mereka.

 

Komunikasi dan Ekonomi: Dua Pilar Penopang Transisi

Tanpa dua elemen ini, seluruh inovasi teknis berisiko gagal di lapangan. Dr. Farah Mulyasari memastikan bahwa narasi transisi energi dapat dipahami dan diterima publik secara luas—bukan hanya oleh kalangan teknis dan akademisi. Literasi energi yang kuat di masyarakat adalah prasyarat agar kebijakan transisi mendapat dukungan sosial yang solid.

 

Di sisi lain, Dr. Eka Puspitawati memastikan bahwa setiap kebijakan energi memiliki kalkulasi ekonomi yang adil. Risetnya menelusuri rantai nilai dari hilirisasi biodiesel hingga dampak industri nikel terhadap ekonomi lokal dan nasional. Dalam pandangannya, kedaulatan energi yang sejati hanya dapat dicapai jika secara bersamaan juga menghadirkan kedaulatan ekonomi bagi rakyatnya.

 

Bersama-sama, keenam peneliti perempuan UPER ini membentuk sebuah konstelasi keilmuan yang saling memperkuat—dari kedalaman bumi hingga kebijakan ekonomi, dari material nano hingga komunikasi publik. Itulah wajah sesungguhnya dari transisi energi Indonesia: multidimensi, kolaboratif, dan digerakkan oleh keberagaman perspektif.

Untuk melihat daftar program studi dan informasi pendaftaran terbaru, Anda dapat langsung mengakses laman resmi admisi Universitas Pertamina melalui https://pmb.universitaspertamina.ac.id/admisi?src=101 dan mulai merencanakan langkah akademik terbaik Anda.

 

 

 

 

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No widgets found. Go to Widget page and add the widget in Offcanvas Sidebar Widget Area.